Ketika Seni, Budaya, dan Teknologi Bertemu di Google Cultural Institute

Akhir September lalu, Google Indonesia mengumumkan bahwa sejumlah candi di Indonesia, antara lain Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko, dapat diakses melalui Google Maps Street View.

Dirilisnya Google Maps Street View candi-candi tersebut, yang dilakukan bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia pada 27 September 2015 lalu, merupakan sebuah bagian dari upaya Google untuk mendokumentasikan serta memberikan pandangan awal terhadap situs-situs budaya yang juga menjadi objek wisata di Indonesia kepada masyarakat di seluruh dunia. Hal ini sejalan dengan adanya perkembangan tren dalam pariwisata dimana sekitar 70 persen wisatawan akan melakukan pencarian melalui internet terkait tujuan wisata yang akan dikunjunginya.

Candi-candi yang dimasukkan ke dalam Google Maps Street View adalah Borobudur, Barong, Ijo, Kalasan, Mendut, Pawon, Prambanan, Ratu Boko, Sambi Sari, Sari, dan Sewu.

Proses pengambilan gambar di Candi Borobudur oleh tim Google Maps Street View Trekker. (Sumber)

Dimasukkannya candi-candi tersebut ke dalam Google Maps Street View juga merupakan salah satu program dari Google untuk menambah koleksi dalam Google Cultural Institute. Google Cultural Institute merupakan program yang dilaksanakan oleh Google sejak 2011 terkait upaya preservasi serta kurasi karya seni dan kebudayaan.

Terdapat setidaknya 3 sasaran user yang menjadi fokus dalam Google Cultural Institute ini, yaitu individu, institusi seni dan kebudayaan, serta komunitas penggiat seni dan budaya. Dari segi individual, Google memberikan akses yang sangat beragam -mulai dari museum, situs kebudayaan, karya seni, dan sebagainya- melalui situs Google Cultural Institute. Selain itu, Google juga bekerja sama dengan berbagai institusi seni melalui aplikasi masing-masing institusi yang terintegrasi dengan Google Cultural Institute sehingga user individual dapat mengaksesnya secara mobile.

Penampil Google Cardboard merupakan sebuah perangkat digunakan oleh user untuk merasakan pengalaman virtual reality seperti mengunjungi museum yang telah menggunakan Museum View melalui smartphone. (Sumber)

Dari sisi institusi seni dan budaya, Google Cultural Institute bekerja sama dengan museum serta situs kebudayaan lain di berbagai negara untuk melakukan preservasi dan kurasi karya-karya seni serta artefak yang terdapat di museum dan situs budaya terkait. Google pun menggunakan sejumlah peralatan mutakhir dalam upaya ini, seperti Art Camera yang dapat menangkap gambar atau lukisan dengan kualitas ultra-high resolution serta Museum View yang merupakan fitur Street View yang khusus dikembangkan untuk menangkap gambar panorama 360° dari museum menggunakan Street View Trolley dan Street View Trekker yang digunakan pada situs budaya yang memiliki akses kendaraan yang terbatas.

Kehadiran The Lab di Paris merupakan sebuah upaya Google dalam mengakomodasi pengembangan komunitas penggiat seni dan budaya dunia. The Lab bertujuan untuk menjembatani seni dan budaya dengan penerapan teknologi melalui peran serta para ahli, kurator, seniman, desainer, serta pendidik sehingga dapat menciptakan metode-metode baru yang dapat menarik lebih banyak peminat di bidang seni dan budaya.

Salah satu proyek yang dilakukan The Lab adalah membuat dinding interaktif yang dapat memperkaya pengalaman ketika menikmati karya seni. Salah satunya telah digunakan di Musée d’Orsay, Paris dimana pengunjung dapat menikmati salah satu lukisan Vincent van Gogh, “Wheatfield with Crows“, dengan kualitas ultra-high resolution. (Sumber)

Di Indonesia sendiri, Google Cultural Institute pertama kali melakukan kerja sama dengan Museum Nasional Indonesia (MNI) pada tahun 2012. Saat ini, MNI juga telah menggunakan Museum View sehingga user dapat menjelajahi museum tersebut secara virtual dan detail di tiap ruangannya.

Sejalan dengan program Google Cultural Institute dalam upaya untuk melakukan preservasi serta kurasi karya seni, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) bersama dengan OntelStudio juga telah memproduksi arsip digital terkait sektor seni di Indonesia. Situs ini memuat beragam gambar, rekaman suara dan video, serta dokumen dari peristiwa maupun karya-karya seni yang dapat diakses oleh user.

Nick Santiago
Believes that ghosts are people from the future in some special suits
Share:

Leave a Reply