One Port to Rule Them All (a Story of USB)

Dari mouse hingga joystick gaming, dari telefon genggam hingga kamera digital, USB (Universal Serial Bus) telah menjadi sebuah hal yang sangat akrab di era teknologi kini. Tanpanya semua tidak akan pernah sama, seperti lagu dari grup band PADI.

Apakah anda masih ingat jalan cerita Lord of the Rings? Sang Raja Kegelapan, Sauron, membuat beberapa buah cincin yang diberikan kepada para pemimpin kaum peri, dwarf dan manusia. Di samping sejumlah cincin tersebut, Sauron membuat sebuah cincin untuk dirinya sendiri yang berfungsi untuk menguasai para pemakai cincin yang lainnya.

Meskipun tidak seperti Sauron, keberadaan USB port sudah seperti Cincin Kekuatan yang dikenakannya: berfungsi sebagai sebuah port yang menghubungkan banyak perangkat komputer ataupun elektronik ke komputer. Saya masih ingat ketika saya baru memiliki PC di rumah ketika kelas 3 SD (sekitar tahun 1998), setiap perangkat memiliki port-nya tersendiri, entah itu mouse, keyboard, printer, dan lain-lain. Selain memakan ruang yang cukup banyak, terdapat pula beberapa port yang hanya bisa digunakan untuk satu perangkat saja. Belum lagi harus dilakukan sejumlah konfigurasi untuk memasangnya di komputer.

Port paralel dan seri, beberapa konektor yang digantikan oleh USB. (Sumber: Flickr)

Beberapa alasan di atas membuka peluang bagi USB port untuk menjadi primadona baru dalam hal koneksi perangkat komputer dan elektronik. Teknologi yang pertama kali dikembangkan pada tahun 1994 oleh Ajay Bhatt dan USB Implementers Forum, Inc (USB-IF) ini kemudian diterapkan pada komputer di akhir era 90-an. Perangkat iMac G3 merupakan salah satu perangkat yang menggunakan USB port pada tahun 1998. Berbekal USB 1.1 dengan kecepatan transfer hingga 12Mbps, iMac G3 berhasil mengimplementasikan penggunaan USB port serta menggeser penggunaan opsi port lain pada perangkat komputer.

Jika saya bertanya “Apa yang pertama kali muncul di benak anda apabila anda mendengar ‘USB’?”, kemungkinan sebagian besar dari anda akan menjadikan USB flash drive sebagai jawabannya. Keberadaan USB flash drive (atau lebih familiar dengan sebutan “flash disk”) merupakan sebuah hal yang sangat lekat dengan USB port. Bagi anda yang sudah menggunakan komputer lebih dari 10 tahun terakhir, tentunya masih ingat dengan masa-masa ketika menggunakan floppy disk dan compact disc sebagai media penyimpanan beserta problematikanya masing-masing: floppy disk memiliki kapasitas yang sangat kecil (1,44 MB) dan CD meskipun mempunyai daya tampung yang lebih besar (650-700 MB) namun cenderung ringkih dan mudah rusak.

Pengembangan USB dari USB 1.1 menjadi USB 2.0 menjadi pintu masuk yang potensial bagi USB flash drive dalam sektor perangkat penyimpanan data. Dengan kecepatan transfer 480Mbps, USB flash drive kemudian menjadi pilihan utama dalam hal penyimpanan data. Ditambah lagi dengan bentuknya yang lebih tahan banting dan lebih kecil dibandingkan dengan CD. Selain itu, USB 2.0 juga semakin memudahkan koneksi untuk perangkat eksternal seperti adaptor Wi-Fi, optical drives, port Ethernet dan lain-lain. Tak ayal USB 2.0 kemudian menjadi port yang dominan pada tahun 2000-an. Keberadaan USB 3.0 yang mulai muncul pada tahun 2008 pun semakin menguatkan posisi tersebut. Berbekal kecepatan transfer hingga 5Gbps, USB 3.0 semakin memudahkan serta memangkas waktu untuk melakukan system backups ataupun untuk memindahkan file video yang berukuran sangat besar.

USB flash drive, kecil-kecil cabe rawit
USB flash drive, kecil-kecil cabe rawit. (Sumber: Flickr)

Meskipun saat ini telah menjadi bagian utama dari rancang bangun komputer dan laptop, bukan berarti USB port tidak mendapatkan sejumlah tantangan. Keberadaan port Thunderbolt adalah salah satunya. Thunderbolt port merupakan pengembangan dari FireWire port yang diproduksi oleh Apple. FireWire sendiri merupakan port yang disertakan dalam varian produk Mac di akhir era 90-an hingga kisaran tahun 2010. Meskipun memiliki transfer rate yang lebih cepat dibandingkan dengan USB port (FireWire 800 memiliki kecepatan 800Mbps, jauh dibandingkan dengan USB 2.0 yang berkecepatan 480Mbps), FireWire memerlukan biaya yang lebih mahal untuk diimplementasikan ke perangkat-perangkat. Adanya biaya lisensi kepada Apple apabila menyertakan nama FireWire dalam produk tertentu juga semakin membuat port ini merosot popularitasnya dibandingkan dengan USB port.

Port Thunderbolt pun hadir sebagai pengganti FireWire dan juga disertakan di setiap varian Mac saat ini. Seperti halnya FireWire, Thunderbolt juga memiliki kemampuan transfer data yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan USB, yang di mana generasi pertama Thunderbolt memiliki kecepatan 10Gbps -2 kali lebih cepat dibandingkan USB 3.0- dan dirilis dua tahun lebih awal dibandingkan USB 3.0. Namun, seperti pendahulunya, implementasi dari Thunderbolt ini juga memakan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan USB.

Perkembangan teknologi nirkabel juga menjadi tantangan bagi USB port. Cloud service, Bluetooth, NFC, Wi-Fi Direct, dan AirDrop merupakan bagian dari teknologi nirkabel yang memiliki fungsi yang sama dengan USB: transfer file. Begitu pun dalam hal koneksi ke perangkat lain, saat ini sudah jamak kita temukan printer dan kamera yang dapat terkoneksi melalui Wi-Fi. Meskipun demikian, permasalahan terbesar dari teknologi nirkabel ini adalah kecepatan dari koneksi. Hal ini yang kemudian membuat transfer setumpuk file gambar atau video sekualitas 1080p terasa lebih nyaman dan cepat dengan menggunakan USB. Di samping itu, keberadaan USB port masih dibutuhkan oleh para developer mobile device, seperti Android, sebab memasang ROM pada perangkat mobile tidak dapat dilakukan via Bluetooth atau Wi-FI.

USB mungkin bukanlah sebuah hal yang “seksi” lagi di era teknologi saat ini. Namun kemudahan, kenyamanan, serta implementasinya yang murah meriah menjadikan USB sebagai sebuah bagian dari perangkat komputer yang masih akan terus bertahan untuk waktu yang cukup panjang ke depannya.

p7o03

Nick Santiago
Believes that ghosts are people from the future in some special suits
Share:

Leave a Reply